Skip to content
Menu
LES PLANK
LES PLANK

Motif Batik Lesplank

Posted on October 21, 2025October 22, 2025

A. Penempatan Pada Atap Rumah/Penyuling

Bunga Rafflesia

Motif bunga Rafflesia pada rumah tradisional Melayu Bengkulu memiliki makna yang sangat khas dan sarat nilai budaya. Penempatannya di bagian atap atau penyuling bukan hanya berfungsi sebagai elemen estetika, tetapi juga sebagai simbol identitas daerah. Rafflesia yang merupakan bunga endemik Bengkulu menjadi lambang kekayaan alam dan keanekaragaman hayati provinsi tersebut. Motif dengan lima kelopak mencerminkan keseimbangan dan keharmonisan hidup antara manusia dengan alam sekitarnya. Penggunaan ukiran timbul menunjukkan keterampilan tinggi para pengrajin tradisional serta memperkuat nilai artistik bangunan. Selain itu, motif ini memiliki fungsi sosial, karena menjadi penanda kebersamaan dan gotong royong masyarakat dalam membangun rumah adat, sekaligus memperlihatkan rasa bangga terhadap warisan lokal yang bernilai filosofis tinggi.

B. Penempatan Pada Lisplang/Suyuk

Pucuk Rebung

Motif pucuk rebung merupakan salah satu ragam hias khas Bengkulu yang banyak ditemukan pada bagian lisplang atau suyuk rumah tradisional Melayu Bengkulu. Motif ini diambil dari bentuk tunas bambu muda (rebung) yang sedang tumbuh, dan secara simbolik menggambarkan pertumbuhan, harapan, serta pembaruan hidup dalam masyarakat. Sebagai bagian dari motif flora, pucuk rebung melambangkan semangat kehidupan yang terus berkembang, sebagaimana rebung yang tumbuh menjadi bambu yang kuat dan bermanfaat. Desainnya yang sederhana dan geometris, memadukan bentuk elips dan segitiga, mencerminkan keseimbangan antara estetika dan makna filosofis. Jenis ukiran timbul pada motif ini mempertegas karakter visualnya dan memberikan kesan dinamis pada tampilan rumah adat. Selain berfungsi sebagai ornamen penghias, ragam hias pucuk rebung juga mencerminkan nilai-nilai sosial dan moral masyarakat Melayu Bengkulu, seperti semangat gotong royong, keteguhan, dan kesinambungan generasi.

Kembang Melur

Motif kembang melur atau bunga melati menjadi salah satu ragam hias yang memiliki nilai filosofi mendalam dalam arsitektur rumah tradisional Melayu Bengkulu. Motif ini biasanya ditempatkan pada lisplang, suyuk, trali, pagar, atau rel, menambah keindahan sekaligus menonjolkan karakter lembut dan anggun dari rumah adat tersebut. Sebagai bagian dari motif flora, kembang melur melambangkan kesucian, keharuman budi, dan ketulusan hati. Dalam konteks masyarakat Melayu Bengkulu, motif ini menjadi representasi moral dan spiritual, di mana keindahan luar harus sejalan dengan keluhuran budi pekerti di dalam diri manusia. Desain ukirannya yang berpola tumbuhan dengan jenis ukiran timbul memperkuat kesan hidup dan alami pada elemen bangunan. Selain berfungsi sebagai penghias, ragam hias kembang melur juga memiliki peran sosial dan simbolik, yakni sebagai wujud penghormatan terhadap alam sekitar yang menjadi sumber kehidupan dan inspirasi masyarakat Bengkulu.

C. Penempatan Pada Tiang/Plabung/Bendu

Kembang Delapan

Motif kembang delapan merupakan salah satu ornamen penting yang biasanya ditempatkan pada tiang atau piabung (bendu) rumah tradisional Melayu Bengkulu. Tiang dalam arsitektur tradisional memiliki peran simbolik sebagai penyangga kehidupan dan keseimbangan, sehingga motif yang menghiasinya juga sarat makna filosofis. Motif ini digolongkan ke dalam motif flora, menggambarkan kehidupan alam Bengkulu yang subur dan beraneka ragam. Pola kembang delapan mencerminkan keseimbangan, keteguhan, dan kesempurnaan, karena angka delapan sering dihubungkan dengan simbol harmoni dan keberlanjutan. Tambahan motif daun memperkuat kesan alami dan menegaskan hubungan manusia dengan lingkungan. Jenis ukiran timbul yang digunakan memberikan dimensi estetis yang kuat, memperlihatkan keahlian para pengrajin lokal sekaligus memperkaya tampilan struktural rumah adat. Secara budaya, motif kembang delapan tidak hanya berfungsi sebagai hiasan, tetapi juga mencerminkan nilai sosial dan spiritual masyarakat Melayu Bengkulu yakni keseimbangan antara kehidupan manusia, alam, dan Sang Pencipta.

Pohon Ru

Motif pohon ru merupakan salah satu ragam hias penting yang digunakan pada bagian tiang atau piabung rumah tradisional Melayu Bengkulu. Bentuknya yang menyerupai pohon tegak melambangkan kekuatan, keteguhan, dan keseimbangan hidup. Penempatan ukiran secara vertikal pada tiang bagian tengah memperkuat kesan kokoh dan memberi nilai estetika pada struktur bangunan. Motif ini juga memiliki makna simbolik yang dalam. Pohon ru, yang terinspirasi dari pohon cemara yang tumbuh subur di daerah pesisir Bengkulu, dianggap sebagai lambang keteduhan, perlindungan, dan kehidupan yang berkelanjutan. Dalam konteks sosial, keberadaan ukiran ini memperlihatkan status, keindahan, dan cita rasa budaya masyarakat Melayu Bengkulu yang menghargai alam sebagai sumber inspirasi. Jenis ukiran timbul yang digunakan memberikan efek visual yang kuat, menonjolkan detail ukiran dan mempertegas bentuk pohon yang menjulang. Dengan demikian, ragam hias pohon ru tidak hanya berfungsi sebagai dekorasi, tetapi juga menjadi wujud ekspresi budaya yang mencerminkan pandangan hidup masyarakat terhadap alam, keteguhan, dan keseimbangan dalam kehidupan sehari-hari.

Pohon Hayat

Motif pohon hayat atau pohon kehidupan merupakan salah satu ornamen penting dalam seni ukir tradisional Melayu Bengkulu. Motif ini kerap ditemukan pada tiang atau piabung rumah adat, melambangkan hubungan antara manusia, alam, dan kekuatan spiritual. Inspirasi bentuknya berasal dari pohon beringin yang dalam pandangan masyarakat memiliki kekuatan magis dan menjadi simbol kehidupan abadi. Kepercayaan terhadap pohon hayat mencerminkan pandangan kosmologis masyarakat Melayu Bengkulu bahwa setiap kehidupan manusia memiliki jejak dan catatan spiritual yang melekat pada “pohon kehidupan.” Oleh karena itu, penempatan ukiran ini pada tiang bukan hanya berfungsi estetis, tetapi juga simbolik menjadi pengingat akan asal-usul, perjalanan hidup, dan keterikatan manusia dengan alam semesta. Ukiran ini dibuat dengan teknik timbul menggunakan satu warna, menonjolkan bentuk yang sederhana namun sarat makna. Kesederhanaan warna justru mempertegas karakter filosofisnya: keseimbangan dan kesatuan antara dunia nyata dan dunia spiritual.

Paku Lipan

Ragam hias bermotif Paku Lipan. Motif ini digunakan pada tiang/piabung/bendu. Ragam hias ini berfungsi sebagai Personal, Sosial, dan Fisik. Hal tersebut terlihat dengan ukiran ini dibuat pada bidang kecil yang memiliki fungsi menghiasi tiang bagian atas secara horizontal. Tiap tiang biasanya terdapat empat Paku Lipan. Ukiran Paku Lipan memiliki bentuk relung yang dibuat simetris antara kiri dan kanan. Ukiran ini dibuat dengan jenis ukiran timbul. Di tengah bagian ukiran Paku Lipan dihiasi oleh ukiran Bunga Melati. Motif Paku Lipan mencerminkan keseimbangan dan ketelitian dalam seni ukir tradisional Bengkulu. Bentuknya yang simetris menggambarkan harmoni antara dua sisi kehidupan kiri dan kanan, atas dan bawah sebagai simbol keseimbangan antara dunia fisik dan spiritual. Keberadaan Bunga Melati di tengah ukiran menambahkan makna kesucian dan keharuman budi, menunjukkan bahwa keindahan sejati muncul dari keseimbangan dan kemurnian hati. Motif ini juga memperkuat nilai estetika rumah adat Melayu Bengkulu, di mana tiap ukiran tidak hanya berfungsi dekoratif, tetapi juga mengandung pesan filosofis yang erat dengan pandangan hidup masyarakat setempat.

Kipas

Ragam hias bermotif Kipas. Motif ini digunakan pada tiang/piabung/bendu. Ukiran Kipas merupakan ukiran timbul, dengan bentuk sederhana menyerupai kipas. Umumnya hanya sepertiga dari bentuk kipas dipindahkan ke dalam ukiran jenis timbul. Ragam hias ini berfungsi sebagai Personal, Sosial, dan Fisik, hal tersebut terlihat dengan ukiran ini dibuat pada bidang kecil yang memiliki fungsi untuk menghiasi tiang bagian tengah. Posisi ukiran kipas terletak di tiap sudut ukiran. Makna ukiran diambil dari kehidupan sosial bermasyarakat sehari-hari. Motif Kipas dalam seni ukir Melayu Bengkulu menggambarkan kesejukan, kesopanan, dan kebersahajaan dalam kehidupan sosial masyarakat. Bentuk kipas yang melebar ke luar menandakan keterbukaan dan keramahan, nilai-nilai yang dijunjung tinggi dalam budaya Melayu. Selain itu, penempatan ukiran pada bagian tengah tiang menunjukkan fungsi kipas sebagai elemen penyegar visual sekaligus simbol keseimbangan dalam struktur rumah adat. Ukiran timbul dengan bentuk sederhana ini memperlihatkan karakter estetika masyarakat Bengkulu yang tidak berlebihan, tetapi tetap memancarkan nilai harmoni dan kebersamaan. Motif Kipas menjadi representasi bagaimana masyarakat memaknai kehidupan sosial yang saling menghormati dan menjaga keseimbangan antarindividu.

Archives

  • December 2025
  • October 2025

Categories

  • Uncategorized
©2026 LES PLANK | WordPress Theme by Superb WordPress Themes